Perekat Rakyat Sulteng.

Tuntut PLTU Panau Ditutup, Warga Tawaeli Blokir Jalan Trans Sulawesi

61

SULTENG RAYA – Ratusan warga yang berasal dari Kecamatan Tawaeli dan Palu Utara melakukan pemblokiran jalan Trans Sulawesi Palu-Tawaeli selama beberapa jam pada Senin (22/1/2018) pagi.
Aksi yang berlangsung dari Kantor Kelurahan Panau dan terpusat di sekitaran Jembatan Tawaeli tersebut sempat membuat akses jalan Trans Sulawesi macet total.

Menurut Koordinator Aksi, Amirullah, masa aksi yang berasal dari warga Kelurahan Panau, Lambara, Baiya, dan Kayumalue tersebut meminta agar Pemerintah Kota (Pemkot) Palu menghentikan aktivitas produksi racun limbah bahan berbahaya beracun (B3) atau biasa disebut abu terbang (fly ash) dari limbah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Panau yang dikelola oleh PT Pusaka Jaya Palu Power (PJPP) serta meratakan timbunan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) Fly Ash dan Button Ash yang ada di bantaran sungai Tawaeli.

“Kami merasa pihak PLTU tidak kooperatif dengan tuntutan kami sebelumnya, utamanya terkait penghentian aktivitas produksi racun limbah B3 PLTU dan pembuangan limbah ke bantaran sungai,” ujarnya.

Dikatakan Amirullah, warga menilai PLTU masih saja membuang limbahnya dibantaran sungai, parahnya limbah dibuang secara massif, sehingga menimbun seperti gunung.

“Kita minta pembuangan limbah disamaratakan dengan timbunan abrasi sungai Tawaeli,” tuturnya.
Sementara itu menanggapi aksi demo warga tersebut, Walikota Palu, Hidayat mengatakan bahwa tuntutan terkait penghentian aktivitas operasional PLTU Panau dinilainya bukan merupakan langkah yang tepat, karena menurutnya persoalan PLTU Panau tersebut telah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu dan kini hampir tuntas.

“Tuntutan mereka itu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan tidak bisa selesai, namun kini hanya dalam kurun waktu setahun terakhir hampir semua sudah dapat teratasi,” ujar Hidayat, Senin (22/1/2018).

Hidayat menjelaskan demikian pula halnya dengan persoalan pengangkutan batu bara dari laut ke darat yang mereka keluhkan, sebenarnya kini sudah menggunakan konveyor sehingga sudah sesuai standar debu batu bara.

“Sekarang yang tersisa persoalan fly ash, namun persoalan ini sebenarnya sudah selesai karena masyarakat juga sudah akan dibina untuk mengelolanya, namun dalam perjalanan pembangunan pengelolaan limbah-limbah sempat terganggu padahal sudah dijadwalkan pengangkutan fly ash tersebut,” ungkap Hidayat.

Lebih lanjut Hidayat menambahkan bahwa terkait permintaan pemindahan fly ash, pihaknya mengaku telah menyetujui, akan tetapi terkait keinginan penghentian operasional PLTU Panau dirinya menilai hal itu bukan sebuah langkah penyelesaian masalah.

“Kita setuju pemindahan fly ash ke tempat pengelolaannya namun kita tidak bisa menghentikan operasional PLTU karena akan berdampak pada pengurangan daya kelistrikan yang ada, sehingga akan berakibat fatal dan mengganggu jalannya pembangunan di Kota Palu,” ucap Hidayat.

TRANS SULAWESI MACET TOTAL

Arus lalulintas di jalan trans Sulawesi menuju dan ke luar Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, macet total sejak hampir tujuh jam terakhir karena tertutup aksi demo masyarakat Kecamatan Tawaeli terhadap sebuah perusahana pengelola pembangkit listrik.

Ratusan kendaraan yang akan menuju Kota Palu dari arah Parigi di sebelah timur dan Tolitoli di sebelah utara serta dari arah Kota Palu menuju ke Parigi dan Tolitoli menumpuk sejak pukul 09.00 Wita, Senin.

Antrean kendaraan dari arah Parigi ke Kota Palu sudah mencapai hampir lima kilometer, sedangkan dari arah Tolitoli sekitar tiga kilometer, sementara dari arah Kota Palu sekitar dua kilometer.

Para penumpang mobil yang kebanyakan perempuan dan anak-anak mengaku sangat resah bahkan jengkel dan tidak sedikit yang mengumpat aksi unjuk rasa masyarakat yang seolah tidak menghiraukan kepentingan masyarakat luas tersebut.

Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said dan Kapolres Palu serta sejumlah pejabat lainnya terus berupaya bernegosiasi dengan ratusan pengunjuk rasa agar membuka jalan tersebut agar atus lalulintas bisa mengalir, namun hingga pukul 15.30 Wita belum juga berhasil.

Massa pendemo masih memenuhi jalan raya dekat jembatan Tawaeli dan melakukan blokade jalanan dengan memasang palang kayu di tengah jalan.

Demo tersebut terkait tuntutan masyarakat dari sejumlah kelurahan di Kecamatan Tawaeli agar perusahaan pengelola pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mpanau meratakan tumpukan limbah B3 ke dalam areal PLTU karena sangat membahayakan warga sekitar. FDL/HGA/ANT

Leave A Reply

Your email address will not be published.