Perekat Rakyat Sulteng.

Karya Anak Palu Tembus XXI

87

SULTENG RAYA – Satu lagi karya anak Palu berhasil menembus cinema XXI, yakni film yang berjudul ‘Air Mata Aisyah’ akan tayang perdana pada 22 Februarib 2018 mendatang.

Hal itu diungkapkan Producer sekaligus ide cerita di kediamannya di Jalan Tekukur Kelurahan Lasoani, Ahad (7/1/2018).
Film itu merupakan karya Celebest Film Production dengan durasi 73 menit. Film itu bercerita tentang perjuangan hidup seorang anak perempuan bernama Aisyah yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.

“Dalam kisahnya, Aisyah ditinggal orang tua pada usianya yang masih terbilang sangat muda. Akibatny, dia dipaksa berusaha bekerja demi menghidupi dirinya,” jelasn Nur Afni

Menurutnya, perjuangan untuk menembus cinema XXI, tak mulus mereka lalui, pihaknya hanya bermodalkan keberanian dan uji keberuntungan melawan kerasnya persaingan perfilman Ibu Kota Jakarta.

Selain itu, karya lokal Film ‘Air Mata Aisyah’ hanya menggunakan dana yang sangat kecil. Bahkan, tantangan lainnya, adalah pengerjaan pembuatan film itu dikerjakan oleh para pemula untuk menembus XXI.

“Tapi, perjuangan panjang itu akhirnya bisa tayang di XXI setelah beberapa perjuangan yang dialalui. Tak sampai di situ, penayangan fil ‘Air Mata Aisyah’ harus menembus Lembaga Sensor Film Indonesia,” kata dia.

Meski penayangan film ‘Air Mata Aisyah’ baru di Kota Palu, namun pihaknya optimis bisa ditayangkan di daerah lain hingga di Ibu Kota Jakarta.

Sementara, proses produski film ‘Air Mata Aisyah’ membutuhkan waktu 1,5 bulan. Namun, proses awal hingga editing membutuhkan waktu kurang dari setahun yang dikerjakan teman-teman Celebest Film Production. Uniknya, pembuatan film itu hanya hanya menggunakan satu kamera dengan jumlah pemain dan kru sebayak 23 orang.

Film ‘Air Mata Aisyah’ merupakan film keempat Celebest Film Production. Namun, baru film ‘Air Mata Aisyah’ yang berhasil tembus tayang di XXI. Karya lainnya hanya diputar di gedung Golni dan sejumlah tempat tongkrongan bareng lainnya di Kota Palu.
“Karya lainya, yakni Miteri Gadis Wentiri, Mendung di Langit Poso, dan Penghuni Hutan Nokilalaki,” terang Nur Afni yang akrab dipanggil Nuning.

Dibalik keberhasilannya yang bisa menembus persaingan tayang di XXI, ternyata menyisakan cerita lain pada pribadi seorang Nur Afni. Dalam proses perjuangannya, dia harus menjual beberapa harta berharga miliknya. Karena, film itu tak ada sponsor dari pihak manapun, melainkan didanai secara swadaya dari keluarga terdekat. Pemeran utama dalam film itu, salah seorang siswa yang duduk di kelas 8a di SMP 7 Lasoani.

“Kisah ini bercerita tentang kesedihan seorang anak yang berjuang sendiri tanpa bergantung dari orang lain, lebih banyak mengambil tema drama kehidupan yang terjadi disekitar kita. Dimana, pemain Aisyah ini bernama Wahyu Alia Sabina yang kini duduk dibangku SMP 7 Lasoani kelas 8A. Bermain secara alami menguras air mata penonton tidak terlihat aktingi pemula,” ujar Afni.
Seperti diketahui, Celebest Film Production awalnya hanya sebuah komunitas yang dibentuk pada 2010 silam. HJ/HGA

Leave A Reply

Your email address will not be published.