Perekat Rakyat Sulteng.

Penyadang Difabel Pamerkan Kerajinan Tangan

84

SULTENG RAYA – Menyandang status berkebutuhan khusus, tidak mengurangi kreativitas sejumlah penyandang difabel yang tergabung dalam kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan Yassin.

Para penyandang difabel itu, dengan keterbatasan yang mereka miliki mampu menghasilkan kerajinan tangan, seperti gantungan kunci, tas dari rajutan rotan, kalung, gelang serta aksesoris lainya.

Hasil kerajinan tangan itu, mereka pamerkan di stan pada kegiatan Garage Sale, yang digelar oleh Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia Sulawesi Tengah (IPEMI), Jumat –Sabtu (22 -23/12/2017).

Pembina Tunarungu Sulteng, Yassin, mengungkapkan, kaum difabel tunarungu ingin menunjukkan bahwa tunarungu juga mempunyai bakat dalam hal kerajinan tangan yang bisa dijual. Dengan kreativitas mereka itu bisa mereka dan kaum difabel lainya.

“Kami pamerkan ini, untuk menunjukan eksistensi kami, bahwa kami kaum difabel itu ada. Dan bisa hidup berdampingan dengan saudara-saudara lainnya, dengan kemampuan kreatifitas yang tidak kalah dengan saudara kita yang normal,” kata Yassin.

Yassin menjelaskan, kerajinan tangan yang digeluti oleh difabel di Palu sudah berjalan selama dua tahun. Bahkan, beberapa waktu lalu, pihaknya memamerkan barang kerajinan tangan mereka di luar daerah seperti di Kediri Jawa Timur.

“Kami juga ingin tampilkan bahwa kaum difabel juga bisa seperti masyarakat pada umumnya, walaupun mempunyai keterbatasan fisik. Namun semangat dan motivasi terus berjalan untuk mensejahterakan kaum difabel, agar tidak ada diskriminasi (perbedaan dengan masyarakat pada umumnya),” jelasnya.

Dia berharap, ke depan UMKM difabel bisa berdaya saing atau setara dengan UKM lainya.
“Insyah Allah, ke depan kami akan mencoba memamerkan kain batik bomba yang dipadukan dengan kerajinan tangan,” ujarnya.

Untuk harga hasil kreativitas kaum difabel sangat terjangkau. Cukup mengeluarkan dana Rp5 ribu hingga Rp300 ribu sudah bisa memiliki kerajinan, seperti, gantungan kunci, gelang, tas rajutan rotan dan topi.
“Harga disesuikan dengan kualitas kerajinan,” tuturnya. */AMI

Leave A Reply

Your email address will not be published.