Perekat Rakyat Sulteng.

Malam Ini, Adu Pendapat Kartini Sulteng

185

SULTENG RAYA- Malam ini, Pimpinan Daerah Perhimpunan Pergerakan Indonesia Sulawesi Tengah (Pimda PPI Sulteng), Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Sulteng dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Palu, menggelar diskusi bertemakan panggil aku kartini saja, yang berlangsung di Warkop Radja Jalan Brigjen Katamso, Senin (20/2/2017) malam ini.

Ketua Pimda PPI Sulteng Syarif Harun mengatakan, diskusi ini bukan saja menjadi kewajiban segenap insan akademis yang meliputi golongan pelajar, mahasiswa, dan para aktivis pergerakan pada umumnya, tetapi ini sudah menjadi tugas nasional yang merujuk pada pembangunan karakter dengan menjadikan pengembangan pola pikir sebagai letak dan poros kemajuan.

“Tak bisa kita pungkiri bahwa derasnya arus global cukup mempengaruhi maestream generasi yang cenderung menyediakan konsumtif praktis, termasuk ketersediaan bacaan yang minim referensi ilmiah sehingga itu tak bisa menjadi rujukan istimewa, apalagi tumpukan pengetahuan,” kata Syarif Harun yang sekaligus pembicara pada acara diskusi buku berjudul panggil aku kartini saja.

Lanjut Syarif Harun, memudahkan dan meluaskan informasi adalah tribun informasi, tapi buku adalah poin mendasar untuk tidak meninggalkannya, apalagi melupakan karya pemikiran anak bangsa yang ikut serta menjadi saksi, bahkan berani melaporkan keberadaan di masa lampau dengan runtutan, ragam dan prestise integritas.

“Dengan Bukulah kita dapat menemukan dan melihat kotak-kotak puritan analisis yang sadar atau tidak kebahagian itu ada dibalik kesadaran. Kita harus lapang dada buat meninjau, menguji, dan memastikan kebenaran keberadaan penerus bangsa. Dengan tekun mengajak generasi bergerak melakukan tinjauan pustaka, kita akan menjumpai laporan original babak perjalanan NKRI sebagai kedaulatan yang terus digerakkan,” lanjut penulis muda sulteng itu.

Sementara itu, Ketua LMND Palu Mirza mengatakan, Kartini merupakan salah satu pejuang perempuan di Indonesia yang mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan terutama bagi kaumnya, yakni perempuan pribumi yang masih tertindas oleh kolonialisme.

“Memang, pada saat Kartini belia, pendidikan di Hindia Belanda, khususnya di Jawa masih sangat diskriminatif.

Dimana pendidikan hanya diperuntukkan kepada anak-anak Belanda dan anak-anak bangsawan pribumi, khususnya untuk mereka para lelaki. Bahkan, Kartini sendiri sebagai salah satu anak dari bangsawan Jawa hanya bisa mendapatkan pendidikan hingga usia 12 tahun saja, hanya karena dia seorang perempuan,” ucap Mirza kepada Sulteng Raya.

Dikatakan Mirza, perempuan pribumi pada saat itu, terutama di Jawa, masih menjadi korban dari sistem feodalisme yang begitu kental. Dimana pada zaman itu, perempuan tidak berhak mendapat kesempatan memperoleh hak yang sama dengan kaum laki-laki. Sehingga tidak mengherankan apabila kegiatan perempuan hanya seputar dapur (memasak), Sumur (mencuci), dan kasur (melayani kebutuhan biologis suami). Pemetaan wilayah kerja semacam itu, kemudian dirangkaikan dengan tugas perempuan yaitu macak (berhias untuk memyenangkan suami), manak (melahirkan), dan masak (menyiapkan makan bagi keluarga).

Menurutnya, kondisi yang memprihatinkan tersebut, dengan membangun sekolah khusus wanita. Selain itu, ia juga mendirikan perpustakaan bagi anak-anak perempuan di sekitarnya. Bagi kartini, pendidikan bagi perempuan adalah keharusan, pendidikan bagi kaum wanita sangatlah penting. Ia yakin, wanita yang terdidik kelak juga akan mendidik anak-anak (perempuannya) dengan lebih maju.

“Perempuan sebagai pendukung peradaban, bukannya karena perempuan yang dipandang cocok untuk tugas itu, tapi karena dari perempuanlah dapat dipancarkan pengaruh besar, yang berakibat sangat jauh, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan, dari perempuan, manusia menerima pendidikannya yang pertama-tama, dipangkuannya anak belajar merasa, berpikir, berbicara, dan bagaimana ibu-ibu bumiputera itu dapat mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri tidak terdidik,” jelas Mirza melalui pendangannya tentang kaum perempuan.

Selain itu, Ketua DPD IMM Sulteng Kamarudin berpendapat, kebaya dimaksudkan sebagai simbol bahwa adat/budaya tidak menghalangi perempuan untuk berjuang dalam mencapai emansipasi. Sedangkan kacamata sebagai simbol untuk memberikan sudut pandang baru tentang emansipasi perempuan. Dimana kacamata membuat pandangan tegap dan utuh sehingga dapat lebih jernih memaknai apa yang terjadi dengan hari Kartini pada saat itu.

Menurut Kamarudin, hendaknya kaum perempuan kembali memaknai minad-dzulumati ilannur, potongan ayat Al Qur’an yang bermakna dari gelap menjadi cahaya, yang menjadi landasan sebenarnya gerakan Kartini. Sudah seabad lebih Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi, mengusahakan pendidikan dan pengajaran bagi perempuan. Kartini adalah seorang reformis pemikiran yang telah membagikan ide-idenya, mengkritisi permasalahan sosial, agama, dan budaya.

“Kaum wanita harus semakin cerdas, termasuk menyikapi trend budaya pop maupun berbagai jeratan manis dunia kapitalis dan hedonis. Selama ini tidak sedikit iklan dan penjualan produk yang menyertakan perempuan sebagai pendamping produk. Bukan barang baru bagi kita mendapati tubuh perempuan dijadikan komoditi. Kapitalisme telah menjelma sebagai perayu bagi para perempuan untuk menjadi penampil tubuh, sekaligus dicerca sedemikian rupa oleh sistem yang sama saat menjual penutup tubuh,” jelas mantan ketua cabang IMM Palu dua periode itu.

Kamarudin menambahkan, Kartini telah mengawali perjuangan mencapai kesetaraan. Kaum perempuan hendaknya bisa melakukan konstektualisasi perjuangan Kartini agar kaum aktivis perempuan yang ada di Sulteng, dapat menjadi elemen bangsa yang tangguh dan konsisten berjuang untuk peradaban bangsa yang ramah perempuan.

Pada kesempatan malam ini, yang berkesempatan untuk menjadi pembicara diantaranya, Immawati Rohani sebagai aktivis perempuan Muhammadiyah sulteng, Indah Indra Razak aktivis LMND Sulteng, Miranti Widya Ponulele perwakilan dari DPD Pospera Sulteng dan Syarif Harun aktivis pergerakan dan penulis muda sulteng. YAT/FDL

Leave A Reply

Your email address will not be published.