Konferensi Pers Tim Ekspedisi Palu-Koro di Sekretariat AJI Kota Palu, Kamis sore (18/5/2017). (Foto: Pataruddin)

SULTENG RAYA – Bila tak ada aral, Agustus 2017, 13 pakar dari berbagai disiplin ilmu menggarap sebuah ekspedisi. Namanya Ekspedisi Palu-Koro. Ekspedisi ini berlangsung tiga bulan dan akan selesai 1 Desember 2017, sekaligus mengenang 90 tahun terjadinya gempa dan tsunami 6,5 skala Richter, 1 Desember 1927 di Watusampu, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Ketua Tim Ekspedisi Palu-Koro, Trinirmalaningrum mengatakan, ekspedisi ini beranggotakan 25 orang dan didalamnya ada 13 pakar dari berbagai disiplin ilmu seperti pakar geologi, antroplogi, sosiologi, sejarah dan arkeologi. Hasil ekspedisi nantinya akan dipublikasi setelah ekspedisi selesai. Tujuannya, memberikan informasi dan sosialisasi tentang kebencanaan, kegempaan serta kesiagsiapaan menghadapi bencana.

“Sejauh ini yang kami lihat, pemahaman masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana masih minim dari tingkatan pemerintahan yang ada. Sehingga perlu diberikan lagi informasi kepada masyarakat agar dalam menghadapi bencana seperti gempa, mereka bisa mengerti langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan,” kata Trinirmalaningrum kepada wartawan di Palu, Kamis sore (18/5/2017).

Menurut Sekretaris Jenderal Platform Nasional Penanggulangan Resiko Bencana (Planas PRB) ini, dari hasil pendahuluan di Gimpu Kabupaten Sigi, masih banyak masyarakat yang belum paham ketika terjadi gempa. “Hal ini menjadi salah satu kenapa ekspedisi ini dihelat dan sebenarnya rencana ini sudah digarap sejak dua tahun lalu,” kata Rini.

“Padahal di jalan utama Gimpu itu ternyata merupakan jalur sesar Palu-Koro. Nah, ketika gempa terjadi, bisa saja merusak jalan dan akan mengganggu distribusi bantuan logistik serta evakuasi,” tambah Rini.

Ketua Bidang Humas dan Publikasi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Anif Punto Utomo sesar Palu-Koro memanjang 250 kilometer dari Teluk Palu sampai ke Matano dan ke arah utara daratan Sigi dan Donggala. Karakter sesar Palu-Koro adalah sesar geser.

“Ada empat hal yang akan diteliti nantinya, yakni tektonik, sumber daya alam di Sulawesi, bencana dan geowisata,” kata Anif.

Lanjut Anif, termasuk batu megalith di Bada juga akan diteliti. “Batu megalith itu masih misteri. Bagaimana batu itu dibentuk dan asalnya,” ujar Anif lagi.

Ekspedisi ini, kata Anif, karena selain sesar Semangko di Sumatera, ternyata ada sesar Palu-Koro di Sulawesi Tengah yang masih kurang dari segi penelitian.

Peneliti IPB Darma Setiawan –juga anggota ekspedisi– mengatakan dari sisi aspek biota akan diteliti kandungan endemik baik flora maupun fauna. “Termasuk schistomiasis di wilayah Lindu merupakan endemik spesifik di daerah tersebut dan akan diteliliti sejauh dampaknya kepada manusia,” ujar Darma.

Untuk diketahui, gempa bumi dan tsunami Watusampu Palu, 1 Desember 1927, tercatat 14 orang meninggal dunia dan melukai 50 orang. Ketinggian tsunami 15 meter menyebabkan ratusan rumah rusak. PTR

TINGGALKAN KOMENTAR